PT Cindo Satria Agro Kolaborasi dengan Peneliti Lokal Hasilkan Varietas Jagung TKS 234

PT Cindo Satria Agro menjadi perusahaan penelitian swasta pertama di Indonesia yang menjalin kolaborasi dengan peneliti lokal dalam pengembangan varietas benih jagung unggul. Hasil kolaborasi tersebut melahirkan varietas TKS 234, yang telah resmi disahkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan dapat dikomersialkan secara luas di seluruh wilayah Indonesia. Informasi ini disampaikan pada Kamis, 31 Maret 2022.

Febry Hendrayana, Direktur Operasional PT Cindo Satria Agro, menjelaskan bahwa varietas TKS 234 merupakan hasil riset peneliti putra daerah asal Kabupaten Ponorogo. Pengembangan varietas ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak di bawah binaan Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko.

Menurutnya, perusahaan menjalankan skema usaha pembenihan berbasis komunitas melalui pola PMP (Pengembangan Masyarakat Pertanian) yang berorientasi pada pemberdayaan petani lokal. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian petani sekaligus meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil pertanian di daerah.

jagung

Penelitian terhadap varietas TKS 234 awalnya dilakukan di lahan tadah hujan. Namun, hasil uji tanam menunjukkan bahwa varietas ini juga adaptif di area persawahan. Dengan demikian, TKS 234 dinilai memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi untuk ditanam di berbagai wilayah Kabupaten Ponorogo.

Secara potensi genetik, varietas ini mampu menghasilkan hingga 12,7 ton per hektare. Adapun keunggulan utama TKS 234 meliputi ketahanan terhadap rebah, serangan penyakit, serta genangan air. Karakteristik tersebut menjadikannya lebih unggul dibandingkan varietas lain ketika ditanam pada kondisi lahan dengan tantangan serupa.

Uji tanam varietas TKS 234 juga telah dilaksanakan di lahan persawahan Desa Sekaran, Kecamatan Siman, Ponorogo. Dalam praktik budidayanya, varietas ini tidak memerlukan perlakuan khusus. Petani hanya dianjurkan menambahkan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah dan memastikan praktik pertanian tetap ramah lingkungan.

Dalam proses pembibitan, perusahaan melibatkan petani dan komunitas setempat. Skema ini mencakup produksi benih bersama petani, proses pengemasan, hingga distribusi dan komersialisasi di wilayah Ponorogo, dengan pendampingan dan pembinaan dari pemerintah daerah.

Kepala Desa Sekaran, Minim, menyampaikan apresiasi atas program pengembangan benih jagung tersebut. Ia mengungkapkan bahwa hasil panen varietas TKS 234 memiliki nilai jual yang kompetitif, mencapai Rp5.000 per kilogram. Pemerintah desa pun menyambut baik penunjukan Desa Sekaran sebagai lokasi percontohan, mengingat hasil panen yang dinilai memuaskan dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat setempat.